Jumat, 28 Mei 2010

JIHAD ITU, DIMULAI DARI RUANG PERSEGI EMPAT....

Lathifah As Suri, tahukah engkau siapa dia???
Beliau adalah istri As-Syahid Imam Hassan Al- Banna. tak banyak buku atau kisah tentang beliau. Sejarahnya berhenti pada, bahwa sebelum menikah dengan sang Maestro Gerakan beliau adalah seorang wanita dari keluarga yang taat beragama dan memiliki karir yang cemerlang.
Setelah menikah Lathifah as Suri, mencukupkan semua kegiatan luarnya dan memilih fokus menjadi ibu full time dengan 6 orang anak. Itu adalah jalan Jihad yang dipilihnya. Beliau sadar, bahwa beban dakwah sang suami tidaklah ringan, dan karenanya beliau memilih jalan perjuangan lain. Bukan di medan tempur, tapi di sebuah rumah, membangun titik peradaban yang sebenarnya.
Perjuangan Lathifah membuahkan hasil yang gemilang. Semua anaknya sukses meraih predikat formal dalam pendidikan ilmiah. Yang sulung, bernama Wafa-menjadi istri Dr.Said Ramadhan. Kedua Ahmad Saiful Islam, kini sebagai sekjen advokat di Mesir. Ia juga pernah duduk di parlimen. Ketiga bernama Tsana, kini sebagai dosen di Universitas Kairo. Kelima Roja, kini menjadi doktor. Dan Halah sebagai dosen kedoktoran anak di UniversitasAzhar. Dan terakhir, Istisyhad sebagai doktor ekonomi Islam. Semuanya itu sebagai bukti, betapa berartinya sosok Ibu bagi keberhasilan dakwah sang suami dan anak.

Jika kelak anda menjadi seorang orangtua, akan menjadi akan menjadi orangtua seperti apakah anda?????

Rabu, 26 Mei 2010

Kisah LUCU Tentang Persahabatan

Ini kisah persahabatan dua anak manusia.Yang satu adalah putra presiden,yang laen pemuda rakyat jelata bernama Pono.Persahabatan ini terjalin sejak mereka masih dibangku sekolah.Pono punya kebiasaan yang kadang menjengkelkan.Apa pun peristiwa yang terjadi didepannya selalu dianggap positif."ITU BAEK"katanya senantiasa.
Hari itu seperti yang sering mereka lakukan,Pono menemani sahabatnya berburu.Tugasnya membawa senapan dan mengisi peluruagar selalu siap digunakan.Entah kenapa,barangkali belum terkunci secara sempurna,setelah diserahkan kepada sahabatnya senapan itu meletus.Akibatnya cukup fatal.Ibu jari putra presiden terkena terjangan peluru dan putus.Melihat itu tanpa sadar dengan kalemnya Pono erkomentar."ITU BAEK"kontan sahabtanya naik pitam.Bagaimana kau ini!Jempolku putus tertembak,malah dibilang baik.Brengsek!Agaknya,kali ini kelakuan Pono tak termaafkan.Ia dijebloskan ke penjara.Berapa bulan kemudian,sang putra presiden kembali berburu ke Afrika.Malang,Ia tersesat dihutan lebat dan tertangkap suku primitif yang masih kanibal.
Malam harinya,dalam keadaan terikat IA akan dibakar untuk disantap ramai ramai.Anehnya,mendadak Ia dibebaskan belakangan ketahuan,suku tersebut pantang memangsa makhluk yang organ tubuhnya tidak lengkap.Nasib baek itu membuat sang putra presiden termenung.Ia teringat kembali peristiwa ketika jempolnya putus tertembak lantaran ulah Pono.Ia kemudian menemui Pono di penjara."Ternyata kau benar,Ada baeknya jempolku tertembak"katanya sambil menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya di Afrika."Aku menyesal telah memenjarakanmu"
"Oh tidak!Bagiku,ini baek"Memenjarakan teman kau bilang baek?" kalau aku tidak dipenjara,pasti saat itu aku bersamamu."Kisah satir ini mengingatkan pada pernyataan Randolph Bourne,intelektual Amerika yang juga anak didik John Dewey.Ktanya,seorang temen itu memang dipilih untuk kita berdasarkan hukum perasaan yang tersembunyi,bukan oleh kehendak sadar kita si manusia.

UMAHAT MASA KINI

terinspirasi tablois suara islam edisi 15. Katanya, Tak ada umat manapun yang akan tetap eksis di dunia ini, bila tidak ditopang dengan peran para ibu dalam melahirkan generasi penerus yang tangguh. Tangguh dalam mempertahankan eksistensi umatnya maupun tangguh dalam menghadapi persaingan global dengan umat yang lain. Pun dengan Islam, kebangkitan umat yang terus diupayakan untuk meraih kejayaan jilid kedua (setelah Khulafau Rasyidin) membutuhkan peran yang cukup besar dari para ibu. Tak hanya ibu yang berani melahirkan anak yang banyak (huffh...), tapi juga ibu yang berani mempersiapkan diri, anak-anaknya dan suaminya terjun dalam barisan perjuangan Islam.

Gelar “Ibu” atau “Ummi” memang memiliki makna khusus dibandingkan istilah wanita atau perempuan (dalam bahasa Arab biasa disebut Nisaa’). “Ummi” mengandung makna sebuah tanggung jawab yang besar yang melekat pada seorang wanita. Tanggung jawab seorang ummi berdimensi sangat luas, tak sekedar menjadi seorang ibu biologis bagi anak-anak yang dilahirkannya saja.

Islam memberikan peran yang cukup besar kepada para ummahat (ibu-ibu). Paling tidak ada tiga dimensi utama peran ibu dalam pandangan Islam. Pertama adalah peran ibu dalam dimensi keluarga, kedua dimensi sosial masyarakat dan ketiga dimensi politik.

Pada dimensi pertama, semua kewajiban yang digariskan Allah SWT kepada para ibu akan berdampak langsung kepada semua elemen dalam keluarga. Kewajiban itu mencakup tanggung jawab sebagai istri maupun sebagai ibu. Dalam tulisan ini tak akan banyak dibahas dimensi pertama ini. Pendek kata, peran ummi dalam sebuah keluarga sebagai ummun wa rabbatul bait diharapkan dapat mewujudkan ketenangan dan kebahagiaan bagi suami dan anak-anaknya.

Perbincangan peran ummahat pada dimensi kedua dan ketiga yakni sosial, masyarakat dan politik sering luput dalam sorotan. Seolah para ummahat hanya memiliki kewajiban tunggal di dalam rumahnya saja. Padahal, sesungguhnya ummahat adalah bagian dari umat juga. Mereka juga memiliki tanggung jawab untuk menopang kekuatan umat. Mereka juga dituntut untuk berkontribusi dalam perubahan umat menuju masyarakat Islam.

Tak dapat dipungkiri bahwa dalam realita sejarah telah terbukti bahwa para ummahat ikut ambil bagian dalam perjuangan Islam. Dari masa Rasulullah SAW hingga masa generasi sesudahnya terukir nama para ummahat yang rela menyumbangkan tenaga, waktu, pikiran, harta, serta keahlian dalam dakwah Islam. Berikut ini beberapa peran yang patut dijadikan acuan bagi para ummahat di masa ini:

Aktif melakukan dakwah fikriyah. Umat yang hidup dalam lingkaran pemikiran kapitalis sekuler tak akan bisa bangkit kecuali bila pemikirannya berubah menjadi pemikiran Islam. Perubahan pemikiran umat ini memerlukan sentuhan dakwah yang tepat dan terus menerus. Dalam konteks ini, para ummahat memiliki peran yang besar untuk mendakwahkan pemikiran Islam di tengah keluarga, kerabat dan kaum wanita secara umum. Dakwah yang bisa mencerahkan umat untuk memprioritaskan keridhaan Allah dan Rasul-Nya daripada kenikmatan duniawi.

Dalam periode awal Islam tercatat bagaimana Umar bin Khaththab tersentuh dakwah pertama kali ketika adik perempuan bersama suaminya secara tak sengaja membaca ayat-ayat Alquran dan membuat Umar marah. Namun, keteguhan sang adik, di samping hidayah dari Allah SWT mampu memicu keislaman Umar, yang pada masa berikutnya justru menjadi pembela setia Rasulullah dan menjadi salah satu Khalifah.

Demikian pula kita dapat melihat bagaimana Sumaiyyah rela mengorbankan nyawanya untuk mempertahankan keimanannya. Keteguhan keluarga Amar bin Yassir ketika mendapatkan penyiksaan dari kaumnya, memberikan energi yang luar biasa bagi orang mukmin lainnya, betapa keridhaan Allah dan Rasul-Nya itu jauh lebih berharga daripada keridhaan kaumnya. Di masa ini, umat membutuhkan banyak umahat yang gigih mendakwahkan Islam di tengah keluarga dan para wanita lainnya, agar mereka dapat menjadi pendukung tegaknya kehidupan Islam. Sebab, masih banyak keluarga-keluarga dan para wanita yang telah teracuni oleh pemikiran sekuler belum dapat menerima aturan-aturan yang datang dari Islam.

Aktif mempromotori lingkungan yang Islami. Lingkungan adalah elemen terdekat bagi sebuah keluarga. Rusak atau baiknya lingkungan sedikit banyak akan membawa dampak secara langsung kepada keluarga-keluarga yang hidup di dalamnya. Tanpa ada upaya dari kader dakwah untuk mengubah atau mewarnai lingkungannya dengan pemikiran, perasaan dan kegiatan keislaman, maka keluarga muslim yang taat akan terisolasi dan terasing dari lingkungannya. Itulah sebabnya, para ummahat yang sebagian besar waktunya berada di lingkungan sekitar rumah punya peran yang strategis dalam menyuburkan lingkungan yang Islami.

Kita dapat meneladani apa yang dilakukan oleh ibunda Aisyah dalam mengajarkan ilmu Islam kepada para sahabat Rasulullah saw. Demikian pula apa yang dilakukan oleh putri Rasulullah saw, Fatimah, yang giat mendatangi para wanita dari kaumnya untuk mengajarkan Islam serta mendatangi para qadhi (hakim) untuk mengingatkan mereka agar senantiasa berpegang pada hukum Allah dan tidak berlaku dzalim.

Aktif menyumbangkan harta untuk dakwah. Sekalipun laki-laki yang diwajibkan bekerja untuk mencari nafkah, bukan berarti wanita tak boleh bekerja untuk memperoleh harta. Islam memberikan hak penuh kepada para wanita untuk memiliki dan menggunakan hartanya, baik yang diperoleh dari bekerja, nafkah, hadiah, warisan atau yang lainnya.

Para ummahat yang diberikan kemampuan harta oleh Allah seyogyanya menyumbangkan sebagian hartanya di jalan dakwah. Hal ini sangat berharga untuk memperkuat upaya perjuangan Islam, kerena perjuangan itu membutuhkan biaya. Isteri Rasulullah SAW, Khadijah merupakan contoh nyata seorang ibu yang memiliki kekayaan harta dan semua dia persembahkan untuk mendukung perjuangan Rasulullah dalam menegakkan panji-panji Islam.

Aktif menggalang kesatuan dan kekuatan ummat. Bagaimanapun, umat yang terdiri dari kaum wanita dan laki-laki dan tersebar dalam berbagai kelompok, ormas, orpol, jama’ah dll merupakan aset perjuangan Islam. Mereka semua perlu dipersatukan dan digalang untuk satu tujuan yang sama, yakni menegakkan kehidupan Islam. Karenanya, bersilaturahmi dengan para ustadzah, tokoh wanita Islam yang berpengaruh di tengah umat menjadi agenda penting bagi kader dakwah.

Kamis, 04 Maret 2010

KETIKA CINTA TAK BERBUAH SYURGA

Kisah nyata.

Pagi yang indah saat, saat dua mata memandang matahari terbit di balik deburan ombak. Sebuah maha karya indah, melenakan setiap insan yang memandanginya.
Kala itu, dinginnya udara pagi masih terasa menyengat. Bau amis nelayanpun masih terasa kuat. Tapi, ah.... itu tidak ada apa- apanya di banding pemandangan yang terhampar di depan mata.
Tanpa disadari dari mana ujung pangkalnya, cerita mengalir begitu saja dari seorang sahabat, sebut saja Bunga(nama samaran). Bunga adalah seorang wanita muda yang sangat optimis dan enerjik, sebenarnya orangnya biasa- biasa aja. Ya... bunga hanya seorang akhowat biasa, dengan kecerdasan biasa saja, kecantikan biasa saja, dan kekayaan yang super- duper biasa aja. Tak ada yang istimewa dalam diri bunga. Hanya saja, Bunga memiliki rasa optimisme dan percaya diri yang sangat tinggi, Bunga juga mempunyai cita- cita yang luar biasa mulia, menjadi Ustadiatul alam. Subhanalloh...
Kembali ke cerita Bunga.
Kala itu, bunga bercerita tentang keresahan hatinya. keresahan hatinya karena si "dia" yang terus menggoda dan bermain- main di pelupuk matanya.
Singkat cerita, ada seorang "ikhwan", yang sedang dekat dengan bunga. tepatnya mendekati bunga. Mereka tidak pernah bertemu sekalipun, mereka kenal lewat SMS dan HP. gimana caranya mereka kenal, tak perlu di ceritakan. Namanya juga dunia aktifis. jaringan luas, hingga ke pelosok desa- desa (he... bukan iklah lho...).
Di awal hubungan, bunga merespon si ikhwan dengan respon yang sangat "positif" tidak ada rasa atau kecurigaan apapun terhadap hubungan keduanya. bahkan Bunga benar- benar menganggap si ikhwan saudaranya. hingga bunga rela mendengarkan curhat dan membalas semua SMS sekalipun itu tak penting sama sekali. Bukankah "perempuan itu Asy syaqa'iq (saudara kandung) kaum laki- laki"(HR.Abu Daud). Jadi , ya... gak ada masalah. Pikirnya kala itu.
Hingga pada satu titik, bunga sadar...ada yang salah dengan hubungan mereka. Tidak layak untuk 2 orang yang bukan muhrim, berhubungan seintim itu... sekalipun itu atas nama sebuah "persaudaraan". Sekalipun tidak ada interaksi fisik di antara keduanya. Sekalipun keduanya hanya berhubungan melalui perangkat komunikasi. Tapi, ah... Masyaalloh...syaithon telah merasuki hatinya, Bunga sadar bahwa hubungannya dengan si ikhwan sudah termasuk Zina hati. dan itu masuk kategori penyakit hati...
Terpekur lesu, Bunga dengan kesadarannya. menangis ia tak henti meminta ampunan dari RobbNya. Hingga ia putuskan untuk tidak merespon semua SMS dan Telpon dari si ikhwan, besikap ketus dan acuh pada si ikhwan, dan berpuasa daud sebagai iqob personalnya. Bunga sangat menyesal...
Tapi hal itu tidak bertahan lama, si ikhwan tetap bersikap baik seolah tak ada apa- apa, hati bunga perih setiap kali ia mendapatkan SMS dari si ikhwan atau melihat ada koment di status FB bunga. Tapi bunga tak bisa berbuat apapun, karena ternyata si ikhwan tetap menganggap semua ini hal yang biasa saja. si ikhwan bersikukuh bahwa interaksi yang dia lakukan masih dalam batasan syariat. ya...memang hanya Alloh yang tau isi hati setiap umatnya.
Bunga sadar bahwa Persaudaraan adalah nikmat terbesar yang dilimpahkan Alloh kepada setiap hambaNya yang beriman. Nikmat inilah yang terasa dimiliki oleh mereka yang berkecimpung dalam aktivitas da'wah. Dan ia akan terasa manis ketika bunga-bunga persaudaraan menghiasi kerja da'wah dalam sebuah organisasi
Namun, tidak layak rasanya semua jika membuat kita terlena tatkala menikmati persaudaraan dalam kerja da'wah yang diamanatkan Alloh itu. Kita, terutama ikhwan-akhwat harus tetap waspada agar nikmat itu tidak menjelma menjadi laknat yang justru akan mencelakakan dan memerangkap kita ke dalam lembah fitnah yang mengancam setiap aktifitas da'wah.
Semakin besar dan meluasnya kerja da'wah akhir-akhir ini, menuntut berbagai strategi baru di kalangan aktivis da'wah, yaitu ikhwan-akhwat juga sulit untuk dielakkan. Karena memang ruang lingkup kerja yang makin luas dan besar menuntut hal itu.
Di kalangan ikhwan-akhwat yang bukan mahram dan belum menikah, tuntutan untuk "saling-salingan" pun muncul mengiringi perkembangan situasi itu. Saling menasehati, saling tolong-menolong , saling berpesan, saling telepon,saling misscalled, saling sms dan saling-saling lainnya. Hal ini tentu tidak terlepas dari alasan bahwa kita bersaudara dan ini berkaitan dan demi kerja da'wah.
Tentu alasan ini bisa dibenarkan, karena memang seorang saudara memilikihak ukhuwah atas saudaranya. Namun, kita juga mesti waspada agar salin-salingan itu tidak menyeret para ikhwan dan akhwat ke sebuah lembah yang jauh dari kemuliaan dakwah di mata Allah SWT. Karena jika kita mau jujur, dalam interaksi keduanya , sangat tipis sebenarnya jarak yang membedakan mana yang memang murni da'wah dan menunaikan hak ukhuwah, dengan mana yang interaksi berbumbu niat-niat lain. Hanya diri kita sendiri dan Allah sajalah yang tahu maksud kita sesungguhnya ("Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati" Al-Mukmin : 19). Oleh sebab itu kita harus banyak bertanya dan jujur pada hati nurani sendiri. SMS atau Missed call misalnya, bukankah SMS atau missed call rindu bisa saja berjubah SMS atau Missed Call amanah da'wah.
Sekirannya fenomena itu memang ada atau memang sudah mulai mengemuka, maka suatu hal yang mesti kita sadari adalah, bahwa kita hanya terikat karena dan dalam da'wah. Dan kita menyadari bahwa ada aturan ikatan kekerabatan (mahram) diantara kita. Oleh sebab itu kita perlu "pemurnian" agar interaksi ikhwan dan akhwat itu betul-betul interaksi da'wah yang tak secuil apapun disekutui niat lain didalamnya. Kitalah yang harus cerdas membedakan, mana interaksi da'wah yang memang mesti ditunaikan dan mana interaksi yang menyimpang yang mesti tak kita lakukan.
Tulisan ini tidak bermaksud menggurui dan bukan pula bertujuan untuk mengajak kita memutus interaksi antara keduanya. Kami hanya menuntut proposionalitas menghadapi fenomena yang berpeluang menjadi fitnah ini. Kita mesti menempatkan segalanya sesuai porsi mereka masing-masing. Kita tidak bisa menafikkan bahwa kita juga sering lupa. Dan ingatlah, bahwa fitnah itu juga bersemi diladang-ladang kebaikkan.
"Ingatlah Bahwa Allah Bersama Anda Dimana pun Anda Berada. Dia Mengawasi Anda dan Apa Saja Yang terlintas dipikiran Anda Pasti di KetahuiNya" (Hasan Al Banna). Wallohu' alam Bisshowab.
Terakhir yang ingin di sampaikan Bunga adalah, “ Akhi, kau memang saudaraku, tapi kau bukan mukhrimku. Sayangilah aku hanya karena Alloh, dan jagalah aku sebagai saudarimu dari segala tipu daya syaithon. Afwan .... ”

Tertulis seperti yang disampaikan di setujui Bunga pada Dina Hanugrah.

Sabtu, 06 Februari 2010

KHADIJAH : Sempurnanya Peran Perempuan

Khadijah binti Khuwailid merupakan isteri pertama Nabi Muhammad. Nama lengkapnya adalah Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai. Khadijah al-Kubra, anak perempuan dari Khuwailid bin Asad dan Fatimah binti Za'idah, berasal dari kabilah Bani Asad dari suku Quraisy. Ia merupakan wanita as-Sabiqun al-Awwalun. Beliau adalah sosok bangsawan cantik & kaya raya yang sangat dihormati, bahkan tidak hanya oleh sukunya.
Siti Khadijah berasal dari keturunan yang terhormat, mempunyai harta kekayaan yang tidak sedikit serta terkenal sebagai wanita yang tegas dan cerdas. Bukan sekali dua kali pemuka kaum Quraisy cuba untuk mempersunting dirinya. Tetapi pilihannya justru jatuh pada seorang pemuda yang bernama Muhammad, pemuda yang begitu mengenal harga dirinya, yang tidak tergiur oleh kekayaan dan kecantikan.
Saidatina Khadijah RA merupakan wanita pertama beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Beliau banyak membantu dan memperteguhkan tekad Rasulullah SAW melaksanakan risalah dakwah. Beliau sentiasa berusaha meringankan kepedihan hati dan menghilangkan keletihan serta penderitaan yang dialami oleh suaminya dalam menjalankan tugas dakwah. Inilah keistimewaan dan keutamaan Khadijah dalam sejarah perjuangan Islam. Beliau adalah sumber kekuatan yang berada di belakang Rasulullah SAW.
Sesungguhnya ketika Khadijah menikah dengan Rasulullah SAW, ia diejek oleh wanita-wanita Mekkah. Mereka tidak mau masuk ke tempatnya, tidak mengucapkan salam kepadanya, dan tidak membiarkan seorang wanita pun masuk ke tempatnya, sehingga Khadijah menjadi risau karenanya. Ia berduka dan bersedih hati jika Rasulullah keluar rumah. Maka ketika ia mengandung Fatimah, bayi kandungan itu menjadi temannya. Karena itulah terkadang Khadijah pun berbicara dengan janinnya.
Ketiba tiba saat melahirkan, tidak ada satupun wanita Quraisy dan Bani Hasyim yang menolongnya, bahkan mereka berkata, “Kamu telah membantah kami dan tidak mendengar omongan kami. Kamu menikah dengan Muhammad, anak yatim Abu Thalib, seorang yang miskin dan tak punya harta. Maka kami tak akan datang dan kami tak akan mengurus urusanmu, apa saja” Khadijah semakin sedih, kemudian Allah menurunkan wanita-wanita dari langit untuk menolong kelahiran Fatimah.
Tetapi bahkan dengan kondisinya yang seperti itu sebagai seorang istri beliau tidak pernah berkeluh kesah dan memberatkan Rosululloh dengan permasalahan rumah tangga, Khadijah sangat memahami kondisi Rosul di awal kenabiannya. Dengan ketabahan dan kemandiriannya Khadijah mengurus urusan rumah tangga sendiri, bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Khadijah mempunyai peran signifikan dalam membeck-up dakwah islam di masa awal kenabian.
Demikian kita melihat sikap bijak ummul mukminin, Khadijah ra. Dirinya menjadi dewasa dan matang bersamaan dengan kejadian-kejadian yang dialaminya. Khadijah menjadi mudah menyelesaikan persoalan bersamaan dengan permasalahan-permasalahan yang dihadapinya. Khadijah tidak sekedar menggembirakan dan membela Muhammad saw berdasarkan dugaan atau kamuflase belaka. Akan tetapi Khadijah mempersembahkan pembelaan dan menyenangkan hati suaminya karena berdasarkan data-data panjang yang ia hadapi selama ini.
"Demi Allah, tidak ada ganti yang lebih baik dari dia, yang beriman kepadaku saat semua orang ingkar, yang percaya kepadaku ketika semua mendustakan, yang mengorbankan semua hartanya saat semua berusaha mempertahankannya dan ... darinyalah aku mendapatkan keturunan."
Begitulah Rasulullah saw berkata tentang kepribadian Khadijjah, istrinya. Seorang isteri sejati, muslimah yang dengan segenap kemampuan dirinya berkorban demi kejayaan Islam.

KESETIAAN YANG BERSEJARAH
Mari kita singkap kembali peristiwa yang sungguh mendebarkan jantung Rasulullah SAW. Peristiwa itu ialah penerimaan wahyu yang pertama di Gua Hira. Sekembalinya ke rumah, baginda berkata kepada isterinya yang tercinta, Aku berasa khuatir terhadap diriku.
Khadijah berusaha menabahkan hati suami yang ditaatinya dengan berkata, "Wahai kekanda, demi Allah, Tuhan tidak akan mengecewakanmu kerana sesungguhnya kekanda adalah orang yang selalu memupuk dan menjaga kekeluargaan serta sanggup memikul tanggungjawab. Dirimu dikenali sebagai penolong kaum yang sengsara, sebagai tuan rumah yang menyenangkan tamu, ringan tangan dalam memberi pertolongan, sentiasa berbicara benar dan setia kepada amanah".
Apakah ada wanita lain yang dapat menyambut sedemikian baik peristiwa bersejarah yang berlaku di Gua Hira seperti yang dilakukan oleh Khadijah kepada suaminya? Apa yang dikatakan oleh Khadijah kepada suaminya pada saat menghadapi peristiwa besar itu menunjukkan betapa besarnya kepercayaan dan kasih sayang seorang isteri kepada suami yang dilandasi iman yang teguh. Sedikit pun Khadijah tidak berasa ragu-ragu atau syak di dalam hatinya. Persoalannya, dapatkah kita berlaku demikian?
Khadijah merupakan wanita kaya dan terkenal. Beliau boleh hidup mewah dengan hartanya sendiri. Namun semua itu dengan rela dikorbankannya untuk memudahkan tugas-tugas suaminya. Hal ini jelas menunjukkan beliau merupakan wanita yang mendorong kemajuan pahlawan umat manusia, melindungi pejuang terbesar dalam sejarah dengan mewujudkan kedamaian dalam kehidupan suaminya. Sikap inilah yang menjadi sumber kekuatan kepada Rasulullah SAW sepanjang kehidupan mereka bersama.

KESETIAAN YANG MENDORONG KEGIGIHAN
Mari kita teliti, fahami serta hayati beberapa gambaran kesetiaan Khadijah yang telah membina kekuatan pada diri dan kehidupan penegak risalah Islam itu.
Sepanjang hidupnya bersama Rasulullah SAW, Khadijah begitu setia menyertai baginda dalam setiap peristiwa suka dan duka. Setiap kali suaminya ke Gua Hira, beliau pasti menyiapkan semua bekalan dan keperluannya. Seandainya Rasulullah SAW agak lama tidak pulang, beliau akan meninjau untuk memastikan keselamatan baginda. Sekiranya baginda khusyu bermunajat, beliau tinggal di rumah dengan sabar sehingga baginda pulang. Apabila suaminya mengadu kesusahan serta berada dalam keadaan gelisah, beliau cuba sedaya mungkin mententeram dan menghiburkannya sehingga suaminya benar-benar merasai ketenangan. Setiap ancaman dan penganiayaan dihadapi bersama. Malah dalam banyak kegiatan peribadatan Rasulullah SAW, Khadijah pasti bersama dan membantu baginda seperti menyediakan air untuk mengambil wudu.
Kecintaan Khadijah bukanlah sekadar kecintaan kepada suami, sebaliknya yang jelas adalah berlandaskan keyakinan yang kuat tentang keesaan Allah SWT. Segala pengorbanan untuk suaminya adalah ikhlas untuk mencari keredaan Allah SWT. Allah Maha Adil dalam memberi rahmat-Nya. Setiap amalan yang dilaksanakan dengan penuh keikhlasan pasti mendapat ganjaran yang berkekalan. Firman Allah yang bermaksud:

Barang siapa yang mengerjakan amalan saleh, baik lelaki mahupun wanita dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.(An-Nahl: 97)
Janji Allah itu pasti benar. Kesan kesetiaan Khadijah bukan sekadar menghasilkan kekuatan yang mendorong kegigihan dan perjuangan Rasulullah SAW, malah membawa barakah yang besar kepada rumah tangga mereka berdua. Anak-anak yang lahir juga adalah anak-anak yang saleh. Keturunan zuriat ahlul-bait Rasulullah SAW merupakan insan yang sentiasa taat melaksanakan perintah Allah SWT. Semua ini menghasilkan kekuatan yang membantu meningkatkan perjuangan Islam.
Bagaimana tidak, sejarah telah membuktikan dalam waktu sempit mengasuh dan mendidik putra- putrinya Khadijah telah berhasil mendidik Fatimah sehingga ia dapat menjadi sosok wanita yang memperoleh titik kedewasaan di umur yang amat belia, hingga Fatimah bahkan dapat menjadi ibu bagi Ayahnya, Muhammad SAW.
Dengan sigap dan penuh cinta, Khadijah mendampingi suaminya menghadapi persoalan hidup.
Wahai muslimah, sekarang adalah masa untuk kita hidupkan kembali hakikat ini dalam kehidupan kita. Semoga kekuatan Islam akan kembali mentadbir kehidupan insan. Allahu a’lam.

Senin, 02 November 2009

YANG JAUH DI NANTI YANG DATANG DI TEPIS

Yang Jauh Dinanti Yang Datang Ditepis
Dikutip dari situs eramuslim yang di Publikasikan pada 23/05/2002 13:43 WIB - Akhlaq bagus, berpendidikan tinggi, wawasan luas, berwajah tampan pula. Belum lagi didukung dengan kemapanan ekonomi yang bisa terlihat dari kendaraan dan rumah pribadinya. Meski demikian, kerendahan hatinya yang begitu menonjol menjadikannya begitu bersahaja. Tidak sombong dan justru sangat dermawan, dekat dengan segala golongan tidak memandang status dan membeda-bedakan orang berdasarkan kelas-kelas ekonomi. Terakhir yang tidak kalah pentingnya, mampu menunjukkan bakat kepemimpinan yang mumpuni. Bermimpikah bila ada gadis muslimah yang mendambakan seorang pendamping dengan kriteria diatas? Atau bolehkah memimpikannya?
Tentu saja, setiap orang -laki-laki maupun wanita- berhak menentukan kriteria orang yang akan dijadikan calon pendampingnya kelak. Karena, seperti yang dicita-citakan hampir semua wanita, cukup satu kali menikah untuk seumur hidup meski terkadang ada sebagian yang harus menerima kenyataan menikah untuk kesekian kalinya karena alasan-alasan tertentu. Terlebih bagi mereka yang memang diberikan kemurahan-Nya memiliki kualitas lebih dari yang lain, entah karena paras cantiknya, jenjang pendidikan, tingkat kemapanan ekonomi, lingkungan dan pergaulan, atau karena kelebihan-kelebihan lainnya, mereka yang dengan berbagai kelebihan yang dimiliki itu tentu saja lebih merasa berhak untuk mematok kriteria tinggi untuk seorang calon pendamping. Setidaknya, pikir mereka, "peluangnya lebih besar" meski harus disadari bahwa segala sesuatu yang bakal berlaku dalam hidup ini, tentu saja Allah penentu akhirnya.
Cantik, masih muda (dibawah 23 tahun atau masih berstatus mahasiswi), bukan hal aneh jika dikala ini masih cenderung membanding-bandingkan satu dengan yang lainnya untuk kemudian menentukan yang lebih baik. Bahkan bukan tidak mungkin masih menantikan hadirnya calon lain disamping yang sedang dibandingkannya. "Siapa tahu, yang datang kemudian lebih oke" pikirnya. Diusia seperti, ini idealisme seorang masih sangat tinggi sehingga, tidaklah heran jika ada orang yang membuat 'joke', salah satu kesibukan mereka adalah "sibuk nolak" terlebih terhadap laki-laki yang memang dianggap bukan kelasnya. Padahal yang ditolak itu sebenarnya juga "nggak rendah-rendah amat kualitasnya", mungkin hanya kurang menarik, atau karena belum mempunyai pekerjaan mapan. Ada juga, alasan-alasan yang tidak masuk akal semisal perbedaan suku. Namun sudah pasti, ini tidak berlaku umum, karena buktinya, banyak juga mereka yang menikah diusia ini dengan menafikan hal-hal seperti wajah atau kemapanan ekonomi.
Sedikit diatas mereka (usia sekitar 25 tahun), baik mereka yang melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi atau sebagian yang lain yang sudah mendapatkan pekerjaan, mungkin saja kondisi tersebut mempertinggi 'daya tawar' mereka, namun justru pada usia ini pola pikir mereka tentang masa depan sudah mulai terbentuk dan punya arah yang lebih jelas. Pandangannya tentang calon pendamping tidak mutlak pada sisi fisiologis (tampan, berduit). Kalaupun ada pandangan ke arah tersebut, kadarnya pun tidak terlalu tinggi, setidaknya mereka juga lebih objektif mengukur dengan kualitas diri untuk disesuaikan dengan kriteria calon yang diharapkan.
Lain halnya dengan mereka yang sudah mendekati 'kepala tiga'. Meski tidak bisa dipukul rata, namun tidak sedikit yang 'banting harga' di usia ini. Mereka yang ketika masih menjadi mahasiswi atau usia tidak lebih dari seperempat abad seringkali menampik kesempatan, menepis yang datang karena tingginya 'idealisme' dan patokan kriteria yang ditancapkan, mulai menurunkan kriteria calon, "Asal baik, sholatnya bener okelah". Bahkan diusia kepala tiga, ada saja yang lebih gila-gilaan soal jodoh yang bisa terlihat dari ungkapan-ungkapan seperti, "asal ada yang mau", "nunggu yang sholeh bener nggak datang-datang, yang ada ini juga bolehlah," atau yang lebih ekstrim, "syukur ada yang mau".
Patutlah menaruh hormat kepada para muslimah yang diusia kepala tiga atau lebih, tetap konsisten dengan mematok standar yang cukup realitis, Akhlak bagus (shaleh), jujur, amanah dan bertanggungjawab, berpenghasilan, serta memiliki jiwa pemimpin. Mereka tetap yakin bahwa Allah, dengan kerahasiaan-Nya sudah mengatur segala hal yang berkenaan dengan dirinya. Dengan tetap berkeyakinan seperti itu, kepercayaan dirinya mampu mengalahkan keresahan dan kegalauan yang terkadang muncul, "Hanya soal waktu, disinilah diuji kesabaran", "Mungkin Allah mentakdirkan untuk lebih lama hidup sendiri" hiburnya. Ada pula wanita-wanita yang karena alasan tertentu sengaja menunda pernikahan. Mereka tidak pernah menyesal terlambat menikah, atau menyesal telah menepis sekian banyak pemuda baik-baik yang datang kepadanya. Mereka, tetap tegar menatap hidup merengkuh masa depan yang menanti.
Namun bagi yang 'masih muda dan belum terlambat', tiada salahnya juga untuk tidak segera menepis datangnya calon pendamping hanya karena kriterianya sedikit dibawah standar, karena siapa tahu -Maha Suci Allah dengan segala kerahasiaan-Nya- dialah yang sengaja dikirimkan Allah untuk anda. Karena juga belum tentu, pujaan hati dengan label tinggi yang selama ini dinanti segera datang, bahkan bisa jadi masih jauh. Who knows? Wallahu a'lam bishshowaab (Bayu Gautama)

3 TIPE PEREMPUAN, Yang Mana Pilihanmu???


Tiga Tipe Perempuan: Yang Mana Tipe Anda?

Dikutip dari situs eramuslim yang di publikasikan pada tanggal 10/05/2002 10:02 WIB - Islam tentu sangat memperhatikan kaum perempuan, dimana hal tersebut tidak berlaku dalam ajaran-ajaran sebelum kedatangan Islam. Posisi perempuan begitu penting (dipentingkan) sehingga sering terdengar suatu ungkapan bahwa tegaknya suatu negara (kelompok) sangat tergantung dengan perilaku perempuan dalam kelompok tersebut. Mungkin ada yang menganggap ini berlebihan, meski tidak bisa dipungkiri bahwa peran perempuan sangat berdekatan dengan kesuksesan dan juga kegagalan!
Dalam ajaran Islam, laki-laki dan perempuan tidak dibedakan peranannya dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama. Keduanya memiliki kesempatan yang sama dalam berusaha berbuat yang terbaik bagi diri, keluarga dan masyarakatnya. Jelasnya, Alqur'an tidak membedakan perlakuan terhadap laki-laki dan perempuan. Beberapa ayat menjelaskan hal tersebut:
"Barangsiapa yang melakukan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan ia mukmin, mereka akan masuk surga ..." (QS. 4:124, 40:40)
"Barangsiapa beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan ia mukmin, kami hidupkan dia dalam kehidupan yang baik ..." (QS. 16:97)
"Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beriman diantara kamu, baik laki-laki maupun perempuan ..." (QS. 3:195)
"Tidaklah boleh bagi mukmin laki-laki dan perempuan merasa keberatan bila Allah telah memutuskan sesuatu perkara ..." (QS. 33:36)
"Orang-orang beriman laki-laki dan perempuan satu sama lain saling melindungi. Mereka sama-sama menyuruh kebaikan dan melarang kemungkaran, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, mentaati Allah dan Rasul-Nya. Allah menyayangi mereka ..." (QS. 9:71)
Begitu gamblangnya Al Qur'an memperhatikan makhluk perempuan, selain ayat-ayat diatas yang menunjukkan tidak adanya diskriminasi antara laki-laki dan perempuan dalam hubungannya dengan pekerjaan, amal dan tindakan, Al Qur'an juga memberikan kepada kita penjelasan tentang beberapa tipologi perempuan, dimana bisa dikatakan, bahwa apa yang pernah terjadi pada masa lalu dan diabadikan dalam Al Qur'an agar menjadi pelajaran bagi kaum mukminin yang perempuan khususnya dan laki-laki pada umumnya. Karena, sekali lagi, masalah yang berhubungan dengan perempuan yang terjadi di muka bumi ini, hampir selalu terkait dengan kaum laki-laki.
Oleh karena itu, menjadi penting untuk memperhatikan beberapa tipe perempuan yang pernah diterangkan Allah dalam Al Qur'an. Dimana Al Qur'an secara khusus membicarakan jenis-jenis perempuan berdasarkan amalnya. Untuk jenis perempuan ideal yang patut diteladani, seringkali Al Qur'an menyebut nama jelas. Namun untuk melukiskan perempuan "buruk" Al Qur'an tidak menyebut nama secara langsung.
Tipe pertama adalah type wanita saleh yang diwakili oleh Maryam. Nama Maryam disebut beberapa kali dalam ayat-Nya selain juga menjadi salah satu nama Surat dalam Al Qur'an. Ia adalah type perempuan saleh yang menjaga kesucian dirinya, mengisi waktunya dengan pengabdian yang tulus kepada Rabb-nya. Karena kesalehahannya itulah ia mendapat kehormatan menjadi ibu dari kekasih Allah, Isa alaihi salam, tokoh terkemuka di dunia dan akhirat (QS. 3:45).
"Dan Maryam putra Imran, yang menjaga kesucian kehormatannya. Kami tiupkan roh Kami dan ia membenarkan kalimah Tuhan-Nya dan kitab-kitab-Nya dan ia termasuk orang yang taat" (QS. 66:16).
Maryam adalah tipe perempuan saleh. Kehormatannya terletak dalam kesucian, bukan dalam kecantikan. Tentu masih banyak deretan nama-nama perempuan saleh baik yang tersebut dalam hadits-hadits Nabi maupun dalam sejarah.
Al Qur'an juga menerangkan tipe-tipe perempuan pejuang untuk menjadi contoh bagi para muslimah. Tipe yang kedua ini dicontohkan dengan sempurna oleh Asiyah binti Mazahim, istri Fir'aun yang hidup dibawah kekuasaan suami yang melambangkan kezaliman. Asiyah dengan teguh memberontak, melawan dan mempertahankan keyakinannya apapun resiko yang diterimanya. Semuanya ia lakukan karena ia memilih rumah di Surga, yang diperoleh dengan perjuangan menegakkan kebenaran, ketimbang istana di dunia, yang dapat dinikmatinya bila ia bekerja sama dengan kezaliman. "Dan Allah menjadikan teladan bagi orang-orang yang beriman perempuan Fir'aun, ketika ia berdo'a: Tuhanku, bangunkan bagiku rumah di surga. Selamatkan aku dari Fir'aun dan perbuatannya. Selamatkan aku dari kaum yang zalim." (QS. 66:11).
Al Qur'an memuji perempuan yang membangkang kepada suami yang zalim. Pada saat yang sama Al Qur'an juga mengecam perempuan yang menentang suami yang memperjuangkan kebenaran, seperti istri Nabi Nuh alaihi salam dan istri Nabi Luth alihi salam. Dalam kaitannya dengan hal ini, Al Qur'an juga menambahkan satu contoh perempuan yang mendukung kezaliman suaminya (sebagai contoh lawan dari Asiyah) yakni, istri Abu Lahab.
Selain Asiyah, ada pula contoh-contoh perempuan pejuang meski suami-suami mereka bukanlah orang-orang zalim, melainkan para pejuang kebenaran. Khadijah binti Khuwailid, Aisyah binti Abu Bakar, Nusaibah binti Ka'ab, adalah contoh nama-nama yang bersama suami mereka bahu-membahu memperjuangkan agama Allah.
Tipe ketiga yang dijelaskan dalam Al Qur'an adalah tipe perempuan penggoda. Jelas untuk yang satu ini diwakili oleh Zulaikha penggoda Nabi Allah Yusuf alaihi salam. Dalam kisah Zulaikha menggoda Yusuf inilah, Al Qur'an menunjukkan kepandaian perempuan dalam melakukan makar dan tipuan. Manakah tipe anda dari ketiga tipe tersebut? Wallahu a'lam bishshowaab (Bayu Gautama/dari buku: Meraih Cinta Ilahi, Jalaluddin Rakhmat)